Perlukah Gayo Lues Lakukan Tawar Negeri?

- Redaksi

Sabtu, 13 April 2024 - 11:33 WIB

51,227 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Abdul Karim Kemaladerna

Tawar Negeri, sebuah ritual yang mirip dengan ruwatan dalam budaya Jawa.
Tawar Negeri merupakan pagelaran budaya pada suku Gayo berupa sebuah acara ritual dengan maksud agar terhindar dari keburukan dan muhasabah serta bermunajat kepada Allah SWT atas keselamatan bagi seluruh anak Negeri.

Nilai nilai yg terkandung dalam tahapan acara tersebut bertujuan untuk menyadarkan dan introspeksi diri terhadap perilaku yang barangkali menjadi penyebab tertimpanya bencana, kekisruhan dan malapetaka terhadap sebuah negeri.

Boleh jadi tawar negeri merupakan budaya nenek moyang sebelum datangnya islam yang kemudian dalam perkembangannya mengalami pergeseran seiring masuknya islam ke Gayo Lues. Tidak ada catatan pasti untuk itu.

Seingat penulis setelah pemekaran Kabupaten Gayo Lues pagelaran budaya tersebut baru diadakan satu kali yakni pada tahun 2005 pada saat Ir. Muhammad Alikasim memerintah. Sebelumnya yang pernah saya saksikan ada beberapa kampung besar di Gayo Lues juga pernah melaksanakan acara ini disekitar tahun 1960an.

Kembali kita kepada makna dari acara tersebut yang intinya adalah mengharapkan kemakmuran dan kesejahteraan negeri dan dijauhkan dari bencana serta malapetaka.

Apakah Gayo Lues sudah perlu melaksanakan acara tersebut atau paling tidak melakukan muhasabah bersama, mengingat bertubi tubinya berbagai peristiwa yg terjadi di Gayo Lues akhir akhir ini, seperti kebakaran yang sambung menyambung, peristiwa sosial seperti pembacokan, pembunuhan dan juga kesulitan ekonomi yang dialami negeri ini. Terlebih lagi sebentar lagi negeri ini akan melaksanakan pilkada. Dengan harapan musibah demi musibah tidak akan terulang lagi.

Barangkali seperti sebuah syair dari lantunan lagu Ebiet G Ade, coba kita bertanya kepada rumput yg bergoyang yang maknanya kita bertanya kepada orang alim, ulama dan orang orang yang berjiwa bersih. Wallahu a’lam bisawaf.

Penulis adalah anggota DPRK Gayo Lues.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Mengali Tidak Harus Menambah, Mengurang dan Membagi
Hukum Adat Istiadat Urat Nadi Kehidupan Masyarakat Gayo Lues (Bagian Pertama)
Gayo Lues di Mata Alhudri
Olah Usaha Versi Rentenir
H. Irmawan Kucurkan Dana 152,5 Milyar Lebih ke Gayo Lues
Seri Amalia, Sosok Guru Berprestasi Aceh
Putri Tokoh Gayo Lues MZ Abidin, Ira Wahyuni Sang Profesor
Prof Bakar Kembalilah,  Gayo Lues Menunggumu

Berita Terkait

Rabu, 19 Juni 2024 - 13:14 WIB

SD, SMP dan SMA Muhammadiyah Buka Lowongan Kerja

Senin, 17 Juni 2024 - 11:37 WIB

Kampung Jawa Kurban 10 Lembu 15 Kambing.

Rabu, 12 Juni 2024 - 17:01 WIB

Eksplorasi Mineral di Pantan Cuaca, PT GMR Diminta Utamakan Putra Daerah

Rabu, 12 Juni 2024 - 16:55 WIB

Jelang Idul Adha Harga Sembako Gayo Lues Relatif Stabil.

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:52 WIB

Suhaidi: Membangun Berbasis Desa.

Kamis, 6 Juni 2024 - 10:10 WIB

Dilantik, 282 P3K Diminta Berikan Layanan Terbaik Kepada Masyarakat

Rabu, 5 Juni 2024 - 20:08 WIB

UIN Takengon Jalin Kerja Sama PPG Dengan Dinas Pendidikan Gayo Lues

Rabu, 5 Juni 2024 - 14:03 WIB

PUPR Gayo Lues Tambah Excavator Baru

Berita Terbaru

GAYO LUES

Arung Jeram Putri Betung Menantang Namun Menyenangkan

Sabtu, 16 Sep 2023 - 18:55 WIB

GAYO LUES

SD, SMP dan SMA Muhammadiyah Buka Lowongan Kerja

Rabu, 19 Jun 2024 - 13:14 WIB

GAYO LUES

Kampung Jawa Kurban 10 Lembu 15 Kambing.

Senin, 17 Jun 2024 - 11:37 WIB

GAYO LUES

Jelang Idul Adha Harga Sembako Gayo Lues Relatif Stabil.

Rabu, 12 Jun 2024 - 16:55 WIB

ACEH TENGGARA

Suhaidi: Membangun Berbasis Desa.

Selasa, 11 Jun 2024 - 19:52 WIB