“Keluarga Datok Pining; Energi Baru Bagi GAM Wilayah Gayo Lues”

- Redaksi

Minggu, 27 Agustus 2023 - 18:20 WIB

5499 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PIMPINAN Barisan Gurilla Rakyat (Bagura), Tengku Ilyas Leube, dikenal sebagai ahli lobi. Jarang orang menolak ajakannya untuk berjuang. Bahkan orang paling kedekut sekalipun.  Setelah berhadapan dengan Tengku Ilyas Leubee, yang punya nama kecil Jahin, mereka akan secara sukarela memberikan bantuan untuk perjuangan menuju Aceh berdaulat.

Namun ada satu orang yang tidak mempan dengan lobi Tengku Ilyas Leubee. Namanya Teungku Abdul Azis. Dia dikenal dengan panggilan Datok Pining. Dia juga dipanggil Tengku Ucak karena masa kecilnya tubuhnya mungil. Datok Pining merupakan tokoh pejuang dan ulama yang memiliki karamah.

Syahdan, Tengku Ilyas Leube membawa 71 orang pasukan bersamanya untuk membujuk Datok Pining. Tujuh orang berangkat ke Pining dengan menunggang kuda. Mereka adalah Tengku Ilyas Leube, Tengku Saleh Adri, Datok Sere, Kapten Maad, Kapten Maaris, Kapten Jalin, dan seorang lainnya. Sisanya berjalan kaki.

Komandan Resimen V, Tengku Ilyas Leube memintanya bergabung. Kepada tamunya, Datok Pining menyatakan ketidakinginannya bergabung dengan pergerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII). Datok Pining menyatakan terlalu tua untuk bergabung dengan Tengku Ilyas Leube.

Di tengah percakapan kedua tokoh ini, pedang milik Datok Pining berdiri dan melayang ke udara. Pedang itu memancarkan warna kebiruan dan membuat pasukan DI/TII yang dibawa Tengku Ilyas Leube ketakutan. Di luar area pertemuan, tujuh kuda yang mereka bawa, seketika mati diterkam harimau.

Memerintahkan harimau adalah salah satu karamah Datok Pining. Dia juga disebut-sebut dapat mengendalikan air, angin, api dan lebah.

Datok Pining adalah pejuang melawan penjajah Belanda dan pernah ditangkap saat melaksanakan salat Maghrib di Lokop Serbejadi. Lantas dia dibuang ke Nusakambangan, Cilacap.

Konon, Nusakambangan adalah penjara paling ketat dengan pengamanan tingkat tinggi. Dalam sejarah, jumlah tahanan yang berhasil lolos dari penjara Nusakambangan hidup-hidup, sejak era Belanda, tidak lebih dari lima orang. Datok Pining satu di antaranya.

Selama perperangan melawan Belanda di Medan Area tahun 1949, Datok Pining tinggal di Lesten, Pining. Dia selalu berangkat pagi hari dan kembali sore hari. Dia selalu meminta tolong kepada Fatimah, anak angkatnya, mencuci pedangnya yang berlumur berdarah.

Selain Datok Pining, Tengku Leube juga pernah mengajak Pasukan Tengku Tapa; yaitu Pang Akub, Pang Latih, Pang Cek dan Pang Ben untuk bergabung bersama DI/TII. Tetapi saat pasukan Mobrig datang, Pang Akub terperosok ke dalam parit dan kainnya basah. Kejadian ini menjadi sinyal yang membuatnya tak jadi bergabung. Pang Akub dan pasukannya pergi meninggalkan pasukan DI/TII tanpa kata pamit.

Lantas, bertahun-tahun kemudian, muncul sebuah anomali. Salah satu cucu Datok Pining, Muhammad Sur bisa bergabung ke dalam Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Ini bukan tanpa alasan. Kesediaan Muhammad Sur ini adalah amanah dari Datu Seliming yang datang kepadanya secara rahasia.

“Langkah ini oromi buet ni pakeni, cumen engon gelumange (sekarang bergabunglah dengan pejuang GAM, namun pandai- pandailah membaca situasi).” Demikian amanah Datu Seliming yang merupakan Ayah dari Datok Pining kepada cicitnya.

Dengan amanah dari Datu Seliming, Tengku Muhammad Sur alias Pang Camat mulai ikut kegiatan GAM. Ketika gema referendum mulai membahana di Aceh, Pang Camat mengibarkan Bendera Bulan Bintang di Aceh Tamiang. Tepatnya pada 8 November 1999.

Di pusat kekekuasaan, di depan Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, demonstrasi proreferendum diikuti ribuan warga Aceh. Demonstrasi menuntut pemisahan Aceh dari Republik Indonesia itu dilabeli sebagai “Sidang Umum Masyarakat Pejuang Referendum Aceh”. Kala itu, semua elemen masyarakat bersatu tekad mengakhiri konflik Aceh secara bermartabat.

Kemudian Tengku Sur mulai berkampanye menyebarkan ideologi GAM kepada masyarakat Gayo Lues bersama Tengku Aman Suri dari Rikit, Tengku Nur Jasa dari Blangkejeren dan Ujang Syukur (bekas pejuang DI/TII).

Pertama kali memegang senjata, Tengku Sur, ketika Tengku Jafar alias Ama Uwe dikirim ke Wilayah Gayo Lues dari Wilayah Linge. Tengku Sur langsung memegang senjata tanpa latihan dasar. Dia hanya belajar bongkar pasang senjata.

Namun ini tidak menghalangi Tengku Sur untuk bertempur. Dia beberapa kali terlibat perang di Wilayah Gayo Lues melawan anggota TNI/Polri. Di antaranya perang terbuka di KM 20, di daerah Agusen dan sweeping di daerah Telengat. Pada saat sweeping itu, Tengku Sur membebaskan seorang polisi yang tidak menduga bahwa itu adalah sweeping GAM.

Dia juga ikut dalam pengadangan di Karanganyar, Blangkejeren. Tengku Sur dan pasukan GAM lain juga berulang kali dikepung dan disergap pasukan TNI/Polri. Seperti di Uring dan Cengis daerah Pining.

Tengku Sur yang lahir dari seorang ibu yang bernama Nuriah dan ayah bernama Hasyim Mahdi juga mengajak saudara-saudaranya untuk ikut bergabung bersama GAM.

Di antara mereka adalah Tengku Joharsyah alias Pang Maulana (adik kandung) Amir alias Pang Cicimpala (adik sepupu), Bahtiar alias Pang Mabok (cucu), Ujud alias Pang Lintes (sepupu), Edem alias Pang Gegur (sepupu), Edem alias Pang Merador (paman), Adam Malik alias Pang Tingkis (cucu) yang syahid dalam kontak tembak dengan TNI/Polri di penggalangan, Blangkejeren.

Saudara-saudara lainnya yang ikut berjuang adalah Tengku Jata alias Pang Cilik, Tengku Rejeb alias Pang Santing, Tengku Sabirin, Tengku Amin alias Pang Pijai.

Dukungan masyarakat Pining terhadap GAM saat itu luar biasa. Pada malam hari pasukan GAM sering bertandang ke rumah warga hanya untuk nonton televisi. Bahkan Tengku Sur mengklaim, jika waktu Darurat Militer diperpanjangan, mereka masih bisa bertahan. Dirinya dan pasukan GAM dengsn jarak 100 meter dari pos TNI/Polri, mereka dapat dengan mudah mendapatkan logistik.

Di antara kampung-kampung yang berdaulat adalah kampung Pertik Gajah. Jangankan pada malam hari, pada siang hari pun pasukan GAM bebas berkeliaran di kampung itu. Pasukan GAM mendapatkan dukungan para tokoh, terutama Kepala Desa Pining, Aman Jarum.

Dukungan itu bukan tidak berisiko. Santang, Kepala Desa Pining, menurut masyarakat setempat dijemput TNI dari rumahnya karena dianggap mendukung pergerakan GAM. Dia tidak pernah kembali lagi ke rumah itu.

Sejarah ini adalah bukti bahwa warga Pining adalah bagian penting dari pergerakan GAM. Mereka adalah orang-orang sederhana dengan darah perjuangan di nadi. Luar biasa.

PENULIS: FAUZAN AZIMA

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Perlukah Gayo Lues Lakukan Tawar Negeri?
Mengali Tidak Harus Menambah, Mengurang dan Membagi
Hukum Adat Istiadat Urat Nadi Kehidupan Masyarakat Gayo Lues (Bagian Pertama)
Gayo Lues di Mata Alhudri
Olah Usaha Versi Rentenir
H. Irmawan Kucurkan Dana 152,5 Milyar Lebih ke Gayo Lues
Seri Amalia, Sosok Guru Berprestasi Aceh
Putri Tokoh Gayo Lues MZ Abidin, Ira Wahyuni Sang Profesor

Berita Terkait

Rabu, 19 Juni 2024 - 13:14 WIB

SD, SMP dan SMA Muhammadiyah Buka Lowongan Kerja

Senin, 17 Juni 2024 - 11:37 WIB

Kampung Jawa Kurban 10 Lembu 15 Kambing.

Rabu, 12 Juni 2024 - 17:01 WIB

Eksplorasi Mineral di Pantan Cuaca, PT GMR Diminta Utamakan Putra Daerah

Rabu, 12 Juni 2024 - 16:55 WIB

Jelang Idul Adha Harga Sembako Gayo Lues Relatif Stabil.

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:52 WIB

Suhaidi: Membangun Berbasis Desa.

Kamis, 6 Juni 2024 - 10:10 WIB

Dilantik, 282 P3K Diminta Berikan Layanan Terbaik Kepada Masyarakat

Rabu, 5 Juni 2024 - 20:08 WIB

UIN Takengon Jalin Kerja Sama PPG Dengan Dinas Pendidikan Gayo Lues

Rabu, 5 Juni 2024 - 14:03 WIB

PUPR Gayo Lues Tambah Excavator Baru

Berita Terbaru

GAYO LUES

Arung Jeram Putri Betung Menantang Namun Menyenangkan

Sabtu, 16 Sep 2023 - 18:55 WIB

GAYO LUES

SD, SMP dan SMA Muhammadiyah Buka Lowongan Kerja

Rabu, 19 Jun 2024 - 13:14 WIB

GAYO LUES

Kampung Jawa Kurban 10 Lembu 15 Kambing.

Senin, 17 Jun 2024 - 11:37 WIB

GAYO LUES

Jelang Idul Adha Harga Sembako Gayo Lues Relatif Stabil.

Rabu, 12 Jun 2024 - 16:55 WIB

ACEH TENGGARA

Suhaidi: Membangun Berbasis Desa.

Selasa, 11 Jun 2024 - 19:52 WIB