Said Sani: Gayo Lues Negeri 1000 Hafizh

0
323

Blangkejeren (ARA NEWS): “ Selama ini, Gayo Lues kita juluki dengan nama Negeri Seribu Bukit. Tetapi dibawah kepemimpinan H. Muammmad Amru dan H. Said Sani, Gayo Lues sekarang kita ditambalkan namanya dengan sebutan Negeri 1000 Hafizh”

Demikian cuplikan Pidato tanpa teks Wakil Bupati Gayo Lues, H. Said Sani, dalam acara pembukaan Musrenbang kecamatan tahun 2018 yang dihadiri sejumlah undangan di Kecamatan Blangjerangon, Selasa (13/2).
Sesuai dengan visi misi Bupati Gayo Lues yang di emban oleh H. Muhammmad Amru dan H. Said Sani, masyarakat yang Islami, Mandiri dan sejahtera, sudah barang tentu secara terus menerus mengedepankan kehidupan yang islami ditengah-tengah masyarakat. Dalam kurun waktu lima tahun kedepan, 1000 hafizh harus dapat terwujud, karenanya Gayo Lues saat ini menambalkan sebutannya dengan Negeri 1000 hafizh.
Pada bagian lain Said yang membacakan teks setebal sebelas halaman itu mengatakan, secara substantib musrenbang merupakan mekanisme dari bagi warga untuk turut berpartisipasi merencanakan pembangunan daerah yang kemudian dintegrasikan dengan perencanaan tehnokratis dan politis, dan pada akhirnya akan diambil langkah-langkah kebijakan pembangunan yang dituangkan ke dalam anggaran pendapatan dan belanja Kabupaten Gayo Lues.
Masa kerja yang lebih kurang empat bulan kebelakang, bidang ekonomi telah menghidupkan fasilitas daerah. Bidang sosial pemerintah melalui SKPK telah melaksanakan program penanggulangan kemiskinan, program pelayanan kesehatan. Program membantu pembangunan dan kemandirian kampung. Pemerintah juga telah menjajaki ekspedisi Pining-Lokop-Pulo Tige-Lesten yang nantinya akan menjadi dasar merancang Blueprint interkoneksi antara Gayo Lues dengan daerah tetangga yang akan mempercepat pertumbuhan kawasan Gayo Lues kedepan.
Disamping beberapa keberhasilan yang sudah dicapai dalam kurun waktu yang singkat itu, pemerintah dihadapkan kepada tantangan, diantaranya. Masih rendahnya budaya kinerja pada aparatur pemerintah. Rendahnya daya saing lulusan sekolah. Distribusi guru yang belum proporsional. Peredaran narkoba yang semakin masif. Pelaksanaan syariat islam yang belum berjalan efektif. Belum optimalnya pemanfaatan sumber daya alam berkelanjutan. Rendahnya produktifitas tenaga kerja dan lemahnya akurasi dan pemanfaatan dalam perencanaan program pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Bappeda sebagai perancang pembangunan diharapkan mampu menyaring dengan cermat sekala prioritas pembangunan yang di hasilkan dalam musrenbang ini. Koneksi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi harus berbanding lurus dengan hasil yang akan diraih nantinya. (Padli)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here