SEBERU GAYO Oleh : Susi Susanti, S.Sos

0
1107
SEBERU (Gadis-red) Gayo adalah sebutan untuk para gadis di dataran tinggi Gayo, khususnya di Kabupaten Gayo Lues, sementara di Aceh Tengah dan Bener Meriah biasa disebut “beru” dan jika lebih dari satu orang disebut “beberu”.
Tata kehidupan masyarakat Gayo hampir sama dengan suku-suku bangsa lain di Indonesia dan Melayu umumnya yang menganut ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dan adat suku Gayo sangat khusus memagari sikap atau tatakrama bergaul dan berkomunikasi untuk Seberu.
Pada dasarnya dalam budaya Gayo, Seberu dibekali denganPeri Mestike (kata Petuah-red) diantaranya :
Remalan Gere Begerdak,
Mujangko Gere Munyintak,

Ike bebuet we si Galak,

Becerak Gere Sergak urum Mubak.


Dari petuah Gayo ini jelas menggambarkan bahwa Gadis Gayo di tuntut untuk tidak bertingkah laku sesuka hatinya, mesti sopan santun, lemah lembut, tidak cerewet, memberi dengan keikhlasan, rajin melakukan pekerjaan sesuai kodratnya sebagai Seberu.

Penggambaran Prilaku Seberu Gayo juga tergambar dari petuah berikut :

Becerak peh we gere sergak, buh santan mulimak i bebere,
tikel berbunge i delahe

Artinya Prilaku Seberu Gayo dalam berbicara harus sopan santun dan berkomunikasi yang baik terhadap lawan bicaranya.

Seberu Gayo juga dituntut untuk belajar  mandiri dan hemat, karna nantinya akan menjadi istri dan ibu dalam sebuah keluarga sehingga otomatis harus bisa me-manage keuangan keluarga demi tercapai sebuah keinginan keluarga yang tertuang dalam Peri Mestike Gayo “Inget -inget tengah gilen kona, hemat jimet tengah ara”maksudnya, berhati-hati sebelum sesuatu akan terjadi, dan berhemat selagi waktu ada.
Tindakan dan perbuatan yang hendak dilakukan harus di pikir lebih dahulu baik-baik tentang untung ruginya, dan begitu pula pada waktu seseorang memiliki harta benda supaya tidak memboroskannya, tetapi mengaturnya sedemikian rupa agar harta itu dapat dipergunakan untuk menyambung hidup. Karna suatu saat, ada sebagian Seberu Gayo setelah menikah nanti akan merasakan hidup “Jawe yang berarti hidup berumah tangga tanpa adanya sangkutpaut lagi dengan orangtua ataupun mertua, kecuali dengan suaminya.

Seberu Gayo. (Foto : Khalis)

Seberu Gayo. (Foto : Khalis)
Setelah menjadi istri, Seberu Gayo juga diajarkan untuk bisa menjaga kehormatannya, hal ini tertuang dalam Peri Mestike Gayo “Beret ni malu atan batang ruang, Beret ni reje atan astana”,yang bermakna kehormatan dan wibawa seorang wanita berada dalam rumah tangga, sedangkan kehormatan dan wibawa Raja berada dalam istana.
Wanita itu dijunjung tinggi dan dimuliakan di rumah. Dalam arti lain bahwa wanita itu adalah mulia jika ia tidak suka bertandang secara berlebihan. Karena bertandang ke rumah orang lain dapat mempergunjingkan seseorang. Namun tidak berarti jika niatnya untuk silaturrahmi.
Selain itu, Seberu Gayo harus juga belajar untuk menjadi panutan dan tempat pelindung yang tertuang dalam Peri Mestika “Uren ipayungi, gelep isuluhi”, maksudnya memberikan perlindungan dan tuntunan kepada seseorang. Misalnya, terhadap anak yang tinggal dalam sebuah keluarga. la jangan dihardik, tetapi dilindungi dan tuntunlah anak itu ke jalan yang benar.
Namun dari semua sifat yang dijelaskan diatas, sifat berbakti kepada orang tua adalah sifat yang paling harus dilakukan oleh Seberu Gayo. Sebagaimana yang diucapkan oleh tetua Gayo “Ike tunung ko kase ling ni jema tue, InsyaAllah langitmu gere mu gegur. Bumi mu gere mu guncang”.
Orang yang memperhatikan dengan cermat ayat Al-Quran maupun hadits akan mendapati begitu banyaknya dalil yang menjelaskan perilaku yang seharusnya dimiliki oleh perempuan khususnya oleh Seberu Gayo dalam hubungannya dengan Allah SWT maupun hubungannya dengan orang lain.
Semua nasehat tersebut akan memberikan rambu-rambu yang mengantarkan pada kehidupan yang terarah dan seimbang. Sehingga Seberu Gayo mendapatkan kepribadiannya yang istimewa. Kepribadian yang sejalan dengan fitrahnya sebagai Seberu Gayo. Sehingga melahirkan Seberu Gayo yang unggul, mulia dan istimewa dalam perasaan, pemikiran, prilaku dan hubungan yang baik dengan orang lain.
Semoga kedepannya kita bisa belajar menjadi Seberu Gayo seperti Petuah Tetua kita. menjadi Seberu yang tidak lupa terhadap adat yang diajarkan dan senantiasa mengamalkan ajaran agama dalam kehidupan sehari- hari sebagaimana kata Tetua “Edet Mungenal Hukum Mubeza, Kuet Edet Muperala Agama”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here