Guru dan Minimnya Budaya Literasi

0
356

Abdullah Azzam (seorang mujahid Afghanistan yang syahid di medan perang) pernah berkata “sejarah ditulis oleh nuansa dua warna, yakni merah darah para syuhada’ dan hitam tinta para ulama”. Artinya, sejarah yang pernah terjadi di atas muka bumi ini bukan hanya karena perjuangan para mujahid yang rela berkorban dengan genangan darah, tapi tak kalah penting adalah coretan tinta para ulama’ yang abadi hingga saat ini.

Dengan kepiawaiannya dalam menulis, para ulama telah berhasil menciptakan sebuah mahakarya sejarah masa lalu yang bisa diputar kembali pada zaman ini. Semisal, Imam Al-Ghazali dengan Ihya’ Ulumuddin, Imam Malik dengan Al-Muwattha’, Imam Syafi’e dengan Al-Umm dan lain-lain. Untuk mewujudkan itu semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Mereka tidak akan menghasilkan karya tulis yang gemilang bila tidak diiringi dengan keilmuan yang memadai. Sederhananya, tulisan berkualitas hanya akan diperoleh dengan semangat baca tanpa batas.

Dunia literasi (kemampuan baca-tulis) menjadi barometer utama kemajuan peradaban. Suatu negara yang mayoritas masyarakatnya minim budaya literasi sudah pasti akan tertinggal dan terbelakang. Sebaliknya, suatu bangsa yang peduli akan literasi akan tumbuh menjadi negara maju dan berintegritas.

Menurut riset yang dilakukan oleh Jhon. W. Miller, presiden CentralConnecticut State University, New Britain yang dirilis oleh The World’s Most Literate Nations(WMLN) pada 2016 lalu menganggap bahwa negara Finlandia telah sukses menumbuhkan budaya baca yang tinggi bagi masyarakatnya. Alhasil, negara nordik ini sukses menjadi kiblat pendidikan dunia.

Keberhasilan tersebut tidak diperoleh secara instan, masyarakat Finlandia selalu mengisi waktu kosong dengan membaca buku. Berbanding terbalik dengan kondisi yang kita alami di negeri ini. kesadaran membaca di negara kita masih jauh dari harapan. Membaca seolah-olah merupakan hal yang sangat tabu dan membosankan. Kesadaran untuk membudayakan literasi masih sangat memprihatinkan.

Dilansir dari Tribun News (15 Mei 2017), berdasarkan studi Most Littered Nation in the World minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara. Hal tersebut diungkapkan oleh Subekti Makdriani, Pustakawan Utama Perpus RI saat menjadi pembicara Safari Gerakan Nasional Gemar Membaca di Provinsi dan Kabupaten/Kota tahun 2017 di Kabupaten Kendal pada Senin, 15 Mei 2017. Sebuah prestasi yang cukup mengkhawatirkan.

Minimnya Minat Baca Guru
Sekolah merupakan ladang paling strategis untuk menanamkan budaya literasi. Karena pendidikan sekolah adalah langkah awal (starting point) yang akan membawa anak didik menuju kehidupan selanjutnya. Yang menjadi pertanyaan, akankah guru yang merupakan lokomotif perubahan telah memiliki jiwa literasi yang tinggi? Nyatanya, masih jauh panggang dari api. Budaya literasi guru di negeri ini masih minim jika tidak mau dikatakan nihil.

Kemajuan teknologi ternyata tidak membangunkan setiap individu untuk cinta literasi, terlebih juga seorang guru. Hal ini terbukti, mayoritas guru kita lebih doyan berselancar ria dengan media sosial. Ketika waktu jam mengajar kosong pun mereka lebih asyik ngobrol, sedangkan buku-buku yang berjejer di perpustakaan tak sentuh hingga berdebu.

Padahal, dunia guru tidak lepas dari kegiatan membaca dan menulis. Minimnya minat baca dan tulis seorang guru akan menjauhkan dirinya dari label guru professional. Administrasi yang harus dipenuhi oleh seorang guru sarat dengan kegiatan membaca dan menulis. Sayangnya, administrasi yang ada hanya meng-copy paste dari internet atau sisa dari tahun-tahun sebelumnya.

Guru terlalu gigih menyuruh anak didiknya untuk giat membaca dan menulis, sedangkan dirinya jangankan membuatkan karya, administrasi saja masih asal-asalan. Menjadi guru bukan sekadar pilihan alternatif lantaran tidak ada pekerjaan. Menjadi guru harus berdasarkan kemauan pribadi dan panggilan hati yang disertai dengan peningkatan kompetensi diri.

Minimnya budaya baca tulis di kalangan guru akan berimbas pada kompetensi para muridnya. Anak didik adalah calon masa depan yang akan membawa nasib bangsa di masa mendatang. Jika generasi muda sudah jengah dengan budaya literasi, bisa dipastikan dia akan tumbuh menjadi pribadi dewasa yang tidak tertarik dengan budaya baca-tulis. Jika ini terjadi tentu tidak bisa melanjutkan spirit literasi kepada generasi selanjutnya. Akhirnya, akan terjadi sebuah sirkulasi turun-temurun yang apatis dengan dunia membaca dan menulis. Selama itu pula bangsa ini konsisten dengan keterbelakagannya.

Mulai Sejak Dini

Menanamkan budaya literasi sangat efektif dimulai sejak dini. Karena sekolah merupakan wadah paling strategis untuk menanamkan budaya literasi, maka seorang guru harus menjadi tauladan (modelling) bagi anak didiknya. Jika guru saja malas dengang dunia literasi, jangan salahkan anak didik jika mereka malas membaca dan menulis.

Tidak mungkin anak bisa maju jika gurunya saja sudah apatis dengan budaya literasi. Apabila menghasilkan karya tulisan dirasa sulit, mulai dari yang kecil semisal memenuhi standar administrasi seoarang guru. Hal ini tentu menjadi jembatan para guru untuk menghasilkan karya.

Menurut Idris Apandi dalam bukunya “Jalan Menuju Guru Mulia Guru yang Berkarya” (2016) menyebutkan bahwa dalam menumbuhkan budaya literasi, guru seharusnya mampu menjadi contoh dan pelopor gerakan sadar literasi, memiliki minat yang tinggi dalam membaca dan menulis. Dan tentunya, memiliki karya tulis sebagai hasil buah pikirnya. Hal tersebut sebagai sebuah kebanggaan juga bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi rekan sejawat dan para siswanya untuk melakukan hal serupa.

Guru yang cinta literasi adalah mereka yang selalu memompa potensi dirinya untuk lebih baik dan maju. Mendidik murid dengan pembelajaran bermutu dan kreatif di ruang kelas (effective class). Sehingga anak didik akan melihat dengan sendiri karya gurunya tanpa harus memaksa dan memberi tahu mereka. Jika budaya literasi telah tertanam kuat dalam diri setiap anak didik, bukan hal mustahil untuk mewujudkan sebuah bangsa yang berwibawa di mata dunia. Semoga!

*Nurul Yaqin, S.Pd.I, Guru di SMPIT ANNUR Cikarang Timur Bekasi Jawa Barat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here